Make your own free website on Tripod.com

Artikel Khairunnas Rajab

Belajar Mengaca Diri

Home
Pengantar
Islam Dan Psikoterapi Moden
Puasa Dan Kesehatan Mental
Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Kesehatan Mental
Sucikan Hati, Bersihkan Jasmani Dengan Taharah
Shalat Menjadikan Jiwa Tenteram
Belajar Mengaca Diri
Isu-isu Jender: Kajian Atas Psikologi dan Sosial Budaya Perempuan

BELAJAR MENGACA DIRI

Oleh:Dr.Khairunnas Rajab, M.Ag.

 

 


Manusia dilahirkan ke permukaan bumi sudah utuh, yang  terdiri dari jiwa dan raga yang kemudian dibentuk dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan; baik fisik maupun psikologinya. Dalam membentuk pribadi, manusia dibekali dengan dua potensi, yaitu; potensi untuk menjadi baik dan potensi untuk menjadi buruk. Manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang yang tidak dibalut oleh sehelai benangpun. Manusia dapat dibentuk sebagaimana yang diinginkan, karena ia dilahirkan dalam keadaan polos dan bersih. Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, manusia akan dipengaruhi oleh berbagai faktor penting, yaitu:


1. Faktor keluarga; faktor ini adalah komponen awal yang dapat mempengaruhi seorang anak yang baru dilahirkan; menjadikan anaknya baik ataupun buruk.


2. Faktor lingkungan; faktor kedua yang amat mewarnai perilaku seorang anak. Lingkungan adalah wadah yang berperanan aktif dalam mengembangkan potensi yang dimiliki individu. Masa-masa imitasi anak akan lebih menampakkan karakter yang dilihatnya untuk dipraktekkannya di masa sesudahnya. Apabila yang dilihatnya baik, maka ia akan bertindak sebagaimana baiknya prilaku yang dilihatnya itu.


3. Faktor pendidikan; faktor sekolah adalah faktor yang mendukung individu untuk menjadi lebih baik melalui pendidikan yang dilaluinya.


Individu yang sudah dibentuk pribadinya, baik ataupun buruk akan tercermin dalam perlakuan dan akhlaknya. Dalam studi mengaca diri, seorang individu perlu memperhatikan baik ataupun buruk prilaku yang sudah menjadi kebiasaannya. Individu itu akan mengoreksi dan mengintrospeksi dirinya, untuk kemudian merubahnya dengan perlakuan yang lebih baik dan mengandalkan keteladanan dan ketaatannya kepada Allah. Rasulullah menghimbau umatnya, agar selalu memperhatikan perkara-perkara yang mendatangkan dosa dan syubhat. Himbauan itu disampaikannya dalam khutbah haji wada’, selengkapnya berbunyi (setelah diterjemahkan):

Wahai umat manusia, dengarkan nasehatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kalian di tempat ini! Tahukah saudara-saudara semua, hari apakah ini? Yang dijawab sendiri oleh beliau: Inilah hari nahar, hari kurban yang suci. Tahukah kalian bulan apakah ini? Ini adalah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci! Maka daripada itu aku beritahukan kepada saudara-saudara sekalian bahwa darah dan nyawamu, harta bendamu dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kamu sampai kamu bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kamu sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang yang tidak hadir di tempat ini oleh saudara kalian! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhanku saksikanlah! Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Maka barangsiapa yang memegang amanah di tangannya. Maka hendaklah ia bayarkan  kepada yang empunya. Dan sesungguhnya riba jahiliyah itu adalah bathil. Dan awal riba yang pertama kali aku bersihkan adalah riba yang dilakukan oleh pamanku sendiri, Abbas bin Abdul Muthalib. Hari ini dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliyah dan penuntutan darah ala jahiliyah yang mula pertama aku hapuskan adalah atas tuntutan darah Amir bin Harits. Wahai umat manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi ia bangga bila kamu dapat mentaatinya walaupun dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun, maka waspadalah kamu atasnya. Hai umat manusia! Sesungguhnya zaman ini beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi. Wahai umat manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita itu (isteri) mu ada hak-hak yang harus kamu penuhi dan bagimu juga ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh isteri itu. Ialah bahwa mereka tidak sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kamu sendiri, dan mereka tidak boleh membawa orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu, kecuali sudah mendapat izin dari kamu terlebih dahulu. Maka sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan yang demikian, sesungguhnya Allah telah berarti mengizinkan kamu untuk meninggalkan mereka dan kamu boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tetapi apabila mereka berhenti dan tunduk kepadamu, maka menjadi kewajibanmulah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, bahwa kaum hawa itu adalah makhluk yang lemah di sampingmu, mereka tidak berkuasa. Kamu telah bawa mereka dengan suatu amanat daripada Tuhan dan kamu telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Dari itu bertaqwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka!
Wahai umat, bukankah aku telah menyampaikan? ya Tuhan,  saksikanlah! Wahai umat manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu sesuatu, yang bila kamu pegang ia erat-erat niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu; kitabullah dan sunnah. Hai umat manusia dengarkanlah baik-baik apa yang aku ucapkan kepadamu niscaya kamu pasti bahagia untuk selama-lamanya. Wahai umat manusia! Kamu hendaklah memahami bahwa orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka bagi masing-masing pribadi di antaramu terlarang keras untuk mengambil harta saudaranya kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah aku telah menyampaikan?! ya Tuhanku, saksikanlah! Janganlah kamu setelah aku meninggal nanti kembali kepada kafir, di mana sebagian kamu mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Karena bukankah aku telah tinggalkan untukmu pedoman yang benar; yang bila kamu ambil ia sebagai pegangan dan suluh kehidupanmu tentu kamu tidak akan sesat. Hai umat manusia, bukankah aku telah menyampaikan? ya Tuhanku, saksikanlah! Hai umat manusia! Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tunggal, dan sesungguhnya kamu berasal dari satu bapak. Semua kamu dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu semua di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa, tidak sedikitpun kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan taqwa. Hai umat, bukankah aku telah menyampaikan? ya Tuhanku, saksikanlah! Maka hendaklah barangsiapa yang hadir di antara kamu di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan pesan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!

Dalam studi mengaca diri, seorang muslim yang baik dan taat akan menjadikan pesan terakhir Nabi SAW dalam khutbah haji Wada’ di atas sebagai muatan introspeksi diri dan eksistensi diri. Seorang muslim dalam menela’ah dan mencermati pesan rasulullah itu, seyogya dengan keikhlasan, ketauhidan, keimanan dan ketaqwaan, sehingga apa yang disampaikan beliau dapat secara aplikatif dipraktekkan.


Ketika manusia mempersiapkan dirinya untuk bertemu Tuhannya, maka dalam introspeksi diri ia akan menyucikan dirinya terlebih dahulu. Ia akan membersihkan jasmaninya dari hadas dan najis serta membersihkan jiwanya dari prilaku-prilaku yang jelek dan merugikan orang lain, untuk kemudian menggantinya dengan prilaku yan baik dan bermanfaat. Ia akan menjauhi sifat dengki, dendam, sombong, riya, menceritakan aib orang lain, mencerna, dan menghina orang lain. Seorang muslim senantiasa menjauhi perdagangan yang mendatangkan riba, karena penumpukan harta dan memperkaya diri dengan jalan riba dilarang oleh Islam. Mengerjakan dosa kecil yang berulang-ulang juga akan menimbulkan efek dan pengaruh yang buruk terhadap perkembangan kejiwaan individu, bahkan juga akan melahirkan kegalauan, keresahan, kecemasan, dan ketidaktenangan jiwa pelakunya.


Dalam wasiat nabi SAW dijelaskan tentang tata cara hidup berumahtangga yang benar. Seorang suami punya hak dan kewajiban, sebagaimana juga seorang istri yang wajib mentaati dan berbakti kepada suaminya.
Seorang istri dapat digauli sesuka hati, selama dalam koridor Islam. Seorang istri juga wajib ditinggalkan, apabila ia tidak lagi mentaati Allah dan rasul-Nya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa baik suami mahupun istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama, saling memahami, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling menjaga keharmonisan rumah tangga dengan baik, komunikatif, dan persuasif. Dan yang paling penting di dalam wasiat nabi SAW tersebut adalah bahwa tidak ada yang membedakan antara satu dengan lainnya, tidak kulit putih dengan kulit hitam, tidak yang kaya dengan miskin, tidak pejabat dengan jelata, dan tidak juga rupawan dengan yang tidak, melainkan ketaqwaannya kepada Allah.


Islam mengatur semua perihal keduniaan dan keakhiratan, maka untuk itu kita diharuskan belajar mengaca diri, mengintrospeksi diri, dan menjadikan identitas diri sebagai seorang muslim yang kaffah dan kholistik.***


Dr Khairunnas Rajab MAg, dosen UIN Suska Riau DPK STAI Natuna.

 

http://riaupos.com/baru/content/view/8405/101/

22 Juli 2007