Make your own free website on Tripod.com

Artikel Khairunnas Rajab

Shalat Menjadikan Jiwa Tenteram

Home
Pengantar
Islam Dan Psikoterapi Moden
Puasa Dan Kesehatan Mental
Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Kesehatan Mental
Sucikan Hati, Bersihkan Jasmani Dengan Taharah
Shalat Menjadikan Jiwa Tenteram
Belajar Mengaca Diri
Isu-isu Jender: Kajian Atas Psikologi dan Sosial Budaya Perempuan

SALAT MENJADIKAN JIWA TENTERAM

By. Khairunnas Rajab

 

 

Kata salat berasal dari bahasa Arab, iaitu salla-yusallu-salatan ertinya: berdo’a dan atau mendirikan salat “Allah memberi berkat atas sanjungannya. Kata “Salat, jama’nya adalah salawat yang berarti “menghadapkan segenap fikiran untuk bersujud, bersyukur dan memohon bantuan”. Salat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, berisikan kalimat tasbih, tahmid, takbir dan tahlil yang mempunyai syarat dan aturan yang sudah diatur dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah. Aktiviti itu harus dilakukan dengan keikhlasan, tawaddu’, kerendahan hati, serta menghina diri di hadapan Allah  SWT.

Terminologi salat menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat hubungan vertikal antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan penuh kekhusu’an seorang insan muslim berdiri, ruku’ dan sujud memenuhi panggilan Rabbnya sebagai pemberi kekuatan, daya, rezeki, taufik dan hidayah. Berdirinya seorang insan muslim di hadapan Allah SWT, akan membekalinya dengan suatu tenaga spiritual yang menimbulkan rasa kenyamanan, ketenangan dan kesehatan mental. Dengan salat seseorang muslim tidak akan merasa bersendirian dalam menghadapi kesulitan karena ia tahu bahwa Allah dekat, Dia Maha tahu lagi Maha Melihat, Maha berkuasa, dan Maha Penyayang. Seorang muslim yang khusyu’ dalam salat, merasakan bahwa ia berhadapan dengan Tuhannya. Walaupun ia tidak melihat Allah, tapi hatinya tahu bahwa Allah melihatnya. Dengan kondisi kejiwaan seperti itu, ia mampu mengungkapkan perasaannya kepada Allah, ia akan berdo’a, memohon dan mengadukan persoalan hidupnya kepada Yang Maha Memahami dan Maha Penyayang. Dengan salat yang khusyu’ itu, semua persoalan yang dihadapinya, yang menghimpit dan menekannya akan dapat diatasi. Oleh yang demikian, psikologinya akan menjadi tenang, nyaman, tenteram dan cerah kembali sehingga fikirannya boleh memberi penumpuan kepada aktivitasnya. Malaikat Jibril yang datang sebagai seorang sahabat Nabi bertanya: Terangkanlah kepada-ku tentang ihsan?  Nabi s. a. w menjawab: ihsan ialah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, sekalipun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.

 Ihsan berarti berbuat baik; membaikkan suatu perilaku, sehingga memiliki nilai syariat. Berbuat sebaik-baiknya bermakna berlaku sempurna. Dengan demikian, kata ihsan itu juga mengandungi pengertian, berbuat sempurna, dan menyempurnakan. Ihsan salat adalah menyempurnakan dengan membulatkan budi dan hati, sehingga fikiran, penghayatan dan anggota jasmani menjadi satu, tertuju kepada Allah SWT. Antara ihsan dan aktivitas adalah dua perkara yang berkait,  kedua-duanya adalah untuk memperoleh kecintaan dan keredhaan Allah. Dalam berubudiyyah, seorang muslim terlebih dahulu dianjurkan untuk meluruskan niatnya bahwa hanya bagi Allah saja ubudiyyah itu dilaksanakan.

Semakin dekat seseorang muslim dengan Tuhannya, semakin terpaut pula hatinya untuk berkhidmat kepada-Nya. Ketika seorang muslim berkeinginan melakukan suatu aktivitas, ia akan merasakan bahwa dirinya diperhatikan oleh Tuhannya. Salat sebagai amalan mahdah akan mendekatkan seorang muslim dengan Tuhannya.

Dalam salat tidak ada sesuatu selain zikir, bacaan ruku’ sujud, berdiri, dan duduk. Zikir adalah bermunajat kepada Allah SWT. Sementara zikir (ingat akan Allah) itu dapat membuat hati menjadi tenang dan tenteram.  Iaitu orang-orang yang beriman hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.QS. al-Ra’d: 28)

Kesadaran manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui, kesadarannya terhadap ketidakberdayaannya di dalam konflik alam yang abadi, kesadarannya akan kerahiman-Nya, semuanya membuat manusia mencurah perasaan-perasaan hatinya yang melimpah dengan kata-kata syukur dan kecintaan, atau dengan kata taubat dan permohonan, kepada yang selamanya sadar dan bermurah hati yaitu Allah, pencipta alam ini.

Kedaifan yang meliputi manusia semakin membuatnya tawaddu’ dan merasa rendah di hadapan Allah. Ketidaksanggupannya mengatasi konflik dan masalah-masalah dalam hidup, membuatnya bermunajat dan ingin mendekati Tuhannya dan akan menyampaikan keluhan-keluhannya kepada Tuhannya.

Salat yang dikerjakan lima waktu sehari semalam dalam waktu yang telah ditentukan merupakan fardu ‘ain. Salat fardu dengan ketetapan waktu pelaksanaannya oleh al-Qur’an dan al-Sunnah mempunyai nilai disiplin yang tinggi bagi seorang muslim yang mengamalkannya. Aktivitas ini tidak boleh dikerjakan di luar ketentuan syara’. Semasa salat tersebut, seorang muslim berikrar kepada Allah bahwa sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matinya hanya bagi Tuhan sekalian alam. Dalam psikoterapi ibadah, metode seumpama ini boleh dijadikan terapi pemulihan bagi seseorang individu yang mengalami kegelisahan dan keresahan. Pada kebiasaannya, mereka akan merasa tenteram dan nyaman setelah melaksanakan kewajiban lima waktu dalam perjalanan hidupnya di hari itu. Dengan adanya rasa aman dan tenang itu, daya fikir individu tadi akan melahirkan suatu kesinambungan lahir dan batin, sehingga dapat berfikir tentang aktivitas yang profesional, belajar yang berkesan, ataupun memperolehi aktivitas baru yang lebih menguntungkan. Seorang muslim yang melaksanakan salat dengan baik dan sesuai dengan syari’at Islam akan senantiasa optimistik dalam menghadapi rintangan dan cobaan masa depan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan kepada diri sendiri.

Salat secara berterusan yang diamalkan oleh seorang muslim tersebut dimulai dari Subuh, diteruskan dengan Zuhur, kemudian Asar, setelah terbenam matahari dilanjutkan dengan Maghrib dan akhirnya diakhiri dengan salat Isya. Hikmah di sebalik  ketentuan waktu ini adalah usaha seorang muslim tidak berlengah-lengah di waktu pagi, kemudian ketika seorang muslim beristirahat sejenak dari aktivitas menjelang zuhur dan lebih-lebih lagi ketika seorang muslim beristirahat setelah aktivitas diteruskan dengan asar. Pada masa istirahat tersebut, biasanya dorongan untuk memperoleh kebenaran agak lemah kerana kepenatan dan kecapekan kerja sehingga memudahkan pengaruh godaan syaitan masuk ke dalam diri manusia. Biasanya perkara ini membuat seorang muslim lupa diri tehadap kewajibannya menunaikan salat sebagai seorang muslim. Oleh karena itulah, Allah membekalkan salat dengan rahasia yang mendalam kepada manusia, agar selalu ingat kepada Allah melalui salat fardu ain yang berterusan. Kewajiban melaksanakan salat kepada setiap mukallaf, diharapkan mampu mendekatkan diri seorang muslim kepada Tuhannya.

Kewajiban salat lima kali sehari semalam mengisyaratkan bahwa di dalamnya mengandungi jalan menuju Tuhan. Salat seakan menyambung jalan yang terputus, di mana ketika salat, seorang muslim mengadakan hubungan dan kontak langsung secara vertikal dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pertalian rasa kepenatan berkerja dengan pendekatan kepada  Allah tersebut akan melahirkan dimensi spiritual yang tinggi sehingga kepenatan dan keletihan bekerja bertukar menjadi tenaga inovatif yang amat meransangkan. Kewajiban salat lima kali sehari yang telah diatur dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah itu, apabila tertinggal kerana lalai atau sebab lain, maka ia akan menimbulkan kesan negatif bagi psikologi. Rasa berdosa dan bersalah akan senantiasa menghantui dan memburu individu di mana rasa berdosa dan bersalah dalam kesehatan mental merupakan salah satu sebab timbulnya keresahan, ketidaknyamanan, dan ketidaksehatan mental.

Jika pada suatu ketika, keadaan tidak mengizinkan untuk melakukan salat tepat pada waktunya, maka individu akan merasa gelisah, bersalah, dan marah pada dirinya sendiri kerana melalaikan kewajibannya selaku seorang muslim. Oleh itu, apabila ditela’ah dengan sebaik-baiknya, maka akan nampak jelas bahwa hubungan salat dengan disiplin kerja amatlah dekat. Kedua-duanya merupakan dua metode psikoterapi bagi menumbuhkembangkan keperibadian dan kesehatan mental.

Apabila salat fardu dapat dijadikan terapi bagi psikologi manusia, maka salat sunat (al-nawafil) juga dapat dijadikan sebagai metode terapi kerana kedua-duanya sama-sama mempunyai nilai (value) zikir kepada Allah SWT. Banyak jenis bentuk dan waktu salat sunat yang dianjurkan sebagai langkah terapi. Umpamanya salat yang mengiringi salat wajib, yang dinamakan salat rawatib. Salat yang dilaksanakan pada waktu naiknya matahari sepenggala hingga masuknya waktu zuhur yang dinamakan dengan salat duha. Salat yang ditunaikan di malam hari seperti tarawih, witir dan tahajjud. Ada juga salat yang dikerjakan karena sebab, seperti salat sunat hajat, salat sunat wudhu’, dan salat sunat tahayat al-masjid.

Ucapan zikir yang terdapat dalam salat menceritakan keagungan Allah. Ucapan itu merupakan rahasia tentang makna hidup bahwa manusia semakin dekat dengan Tuhannya. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a, apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Dekatnya seorang muslim dengan Tuhannya ditandai dengan adanya perintah yang telah ditunaikannya. Merupakan syarat mutlak bagi seorang muslim yang mau bermunajat dan berdo’a kepada Allah SWT. Ibadah yang disertai dengan kekhusu’an akan bernilai terapi bagi psikologi manusia, apalagi kalau ditunaikan di saat hening dan sunyi. Salat tahajjud dan witr akan lebih bermanfaat dan berguna apabila dikerjakan di saat orang lain sedang tidur, sementara seorang muslim lain dengan penuh khidmat beribadah dan bermunajat kepada Allah SWT dan mengadukan nasibnya kepada-Nya semua keluhan yang dihadangnya dalam hidup sehari-hari.

Salat sunat (al-nawafil), seperti tahajud, tarawih, witr, dhuha, tahayatal-masjid, dan salat rawatib, dapat menjadi terapi psikologi manusia dalam usaha mewujudkan pribadi Islam dan pribadi Qur’an. Kerana salat sebagaimana dinyatakan al-Qur’an adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Salat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar tersebut adalah salat yang didirikan secara ikhlas, khusyu’, dan pelaksanaannya sesuai dengan kehendak al-Qur’an dan al-Sunnah Nabi s.a.w. Dengan demikian salat yang mempunyai kaitan langsung antara manusia dengan khaliknya, akan menyambung hubungan baik secara vertikal. Hubungan baik sebagaimana dimaksudkan akan melahirkan ciri-ciri spiritual yang tinggi dan dapat menumbuhkembangkan kepribadian dan kesehatan mental secara sempurna.

               ‘Ubudiyyah dalam bentuk salat sama ada baik wajib maupun sunat menghendaki kesempurnan dalam pengamalannya. Salat yang ditunaikan secara asalan, tidak akan berkesan apapun bagi pembinaan mental manusia. Salat sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah s.a.w dikerjakan umat Islam seperti contoh yang dipraktikkannya.  “Salatlah kamu sebagaimana aku salat”.

Ucapan yang menjadi muatan salat, seperti; takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil adalah ungkapan tayyibah yang berkhasiat bagi menenangkan jiwa yang kaku dan mengalami gangguan mental. Ini karena, salat adalah langkah bagi mendekatkan diri kepada Allah, maka ia menjadikan seorang muslim merasa takut melakukan dosa dan maksiat. Dalam hatinya meyakini bahwa Allah selalu mengawasi gerak-geriknya. Allah melihat apa saja yang dikerjakannya, walaupun ia bersembunyi di dalam goa yang gelap gulita.

Makna dan khikmah yang amat prinsip dari kewajiban salat tidak lain adalah untuk menghindari manusia daripada melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Kewajiban salat pada hakikatnya bukan saja bertujuan pada penghambaan dan ubudyiyah seorang muslim kepada Tuhannya saja, malahan ia dapat menjadi tenaga inovative, preventive, curative, dan constructive bagi kejiwaan manusia.

Salat adalah seperti alat timbangan. Siapa saja memenuhi timbangannya, akan menerima  faedah dan ganjaran sepenuhnya. Dan barang siapa mengurangi timbangannya, maka iapun akan menerima sesuai dengan timbangannya itu. Imam al-Ghazali mengumpamakan salat seperti alat timbangan, kerana salat harus dikerjakan sesuai dengan contoh yang dipraktekkan oleh Rasulullah s.a.w dan tidak dapat mengurangi dari syarat-syarat dan rukun yang telah ditetapkannya. Salat yang dikerjakan tanpa wudhu’ tidaklah sah, kerana kurang syarat. Demikian juga salat yang dikerjakan tanpa membaca al-Fatihah juga tidak sah, karena tidak dipenuhinya rukun salat.

Seorang muslim yang bersalat dianjurkan agar tetap khusyu’, karena khusyu’ merendahkan hati, memperhatikan sepenuhnya dengan serius, dan penuh rasa takut, cemas dan penuh pengharapan kerana berhadapan dengan Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar. Khusyu’ bukan saja sekadar ucapan lidah, tetapi harus diiringi dengan ketundukan anggota badan, tidak bergerak kecuali sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Salat yang cukup syarat dan rukun itulah yang menjadikan hidup bermakna, penuh kenyamanan dalam hidup dan memperolehi kesehatan mental. Pelaksanaan salat yang khusyu’ menjadi tanda bahwa sifat riya’ dan sombong dalam salat lesap dan hilang. Seorang muslim yang berterusan dan tidak berhenti dari melakukan ibadah salat, mampu menghadapi persoalan-persoalan yang datang dalam kehidupannya.

Dalam psikoterapi salat, seorang terapis berperanan aktif dalam menjelaskan tentang kewajiban dan memotivasi klien untuk senantiasa mengamalkan  salat-salat fardu dan salat-salat sunat. Seorang klien yang memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran tentang salat dengan sebaik-sebaiknya, maka ia senantiasa wujud dalam monitoring Allah dan ia akan wujud dalam kesehatan mental. Seorang klien yang melaksanakan salat, akan selalu menjaga dirinya usaha tidak tergelincir dan terjebak dalam kemungkaran dan kemaksiatan. Dengan demikian, salat adalah salah satu metode psikoterapi Islam dalam kesehatan mental.